Berita & Artikel | News & Articles
Wednesday December 12, 2018

menuju kota inklusif

REMBANG, suaramerdeka.com - Sekolah dasar wajib menerima anak-anak berkebutuhan khusus (inklusif) yang akan bersekolah. Namun belum semua sekolah memiliki kemampuan dan fasilitas untuk memberikan pendidikan inklusif.

Kepala SD Negeri Ngemplak Kecamatan Lasem, Teguh Riyanto mengatakan, di Kabupaten Rembang ada empat sekolah yang sudah mendapatkan bimbingan tekhnis (bimtek) langsung dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Empat sekolah yaitu SD Ngemplak Lasem, SD Tanjungsari 1 Kecamatan Rembang Kota, SMP Negeri 2 Gunem dan SMP 1 Sumber. "Kami mendapatkan bimtek langsung dari Dirjen pada bulan Mei lalu", terang dia.

Dia menambahkan, setelah mendapatkan bimtek, SD Negeri Ngemplak kemudian memberikan sosialisasi dan bimtek kepada sembilan sekolah dasar di Kecamatan Lasem. Sosialisasi digelar mulai Sabtu hingga Senin kemarin di SD Negeri Ngemplak dengan mendatangkan instruktur sekolah inklusif dari Kemdikbud yang juga Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Surabaya, Sujarwanto.

"Materi yang diberikan yaitu Kebijakan Pendidikan Inklusif di Kabupaten Rembang, Konsep Pendidikan Inklusif, Keberagaman Peserta Didik, Identifikasi dan Assestmen, Praktek Identifikasi dan Assesment, Implementasi Pembelajaran di sekolah Inklusif, Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran / Program Pembelajaran Individual hingga Praktik Pembelajaran di sekolah inklusif", jelas dia.

Dia mengatakan, dari sosialisasi dan bimtek itu diharapkan sekolah bisa menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Sekolah setelah sosialisasi dan bimtek diharapkan bisa mengidentifikasikan anak yang berkebutuhan khusus.

"Dulu, anak inklusif atau berkebutuhan khusus dimasukkan ke Sekolah Dasar Luar Biasa. Namun sekarang secara nasional harus diterima di sekolah dasar umum. Karenanya guru sekolah dasar umum setelah sosialisasi dan bimtek ini diharapkan bisa mengidentifikasi anak yang berkebutuhan khusus masuk kategori apa dan bagaimana penangganannya", tandas dia.

Sumber: suaramerdeka.com

Di era keterbukaan, teknologi dan digitalisasi memang telah memporakporandakan sebuah tatanan. Apa yang tak mungkin menjadi mungkin, terlepas baik buruknya dampak yang mengikuti, semua tergantung dari sudut mana kita menilai dan dari sisi mana kita berpendapat. Namun ada satu hal yang menjadi keresahan, yang senantiasa menggerogoti dinding pemikiran, manakala informasi dan berbagai pemberitaan tidaklah sesuai harapan. Maraknya pemberitaan berbagai kejadian di era keterbukaan sudah bukan lagi hal yang luar biasa. Berbagai kejadian dari yang sangat privat sampai hal yang di luar nalar, sudah bukan lagi sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Semua peristiwa akan mudah disaksikan hanya cukup dengan memiliki android, notebook atau komputer biasa yang terhubung dengan internet.

Dengan berbagai kejadian terhadap penyandang disabilitas, sepatutnya terima kasih ditujukan kepada sahabat-sahabat media massa, baik cetak atau elektronik, yang selama ini telah berupaya untuk memberitakan berbagai peristiwa dan kejadian terkait disabilitas. Namun dengan tidak mengurangi terima kasih kepada kawan-kawan media, kiranya dipandang perlu untuk membentuk suatu media yang memiliki identitas dan khas tersendiri. Khusus mengangkat isu-isu disabilitas secara detail, komprehensif, seimbang dan objektif. Media yang tidak melebih-lebihkan atau sebaliknya, semua apa adanya, biarkan masyarakat dan proses dinamika yang akan menjadi penilai terhadap eksistensi dan kiprah media difabel. Dengan berlandaskan niat dan semangat untuk perubahan terhadap cara pandang masyarakat terhadap kaum disabilitas, maka pada awal Januari 2018 beberapa disabilitas sepakat untuk membentuk media online bernama Kabardifabel.com.

Informasi lebih lanjut dapak akses di Kabar Difabel.

Bandung - Puluhan penyandang disabilitas mengikuti pelatihan jurnalistik, di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna, Kota Bandung, Sabtu (17/2/2018). Pelatihan jurnalistik ini diharapkan bisa menambah kemampuan dari para penyandang disabilitas.

Puluhan penyandang disabilitas mulai dari tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa dan tuna netra terlihat serius memerhatikan setiap materi yang disampaikan oleh para narasumber. Satu orang penerjemah bahasa isyarat ikut membantu narasumber dalam menyampaikan materinya.

Sehingga, materi yang disampaikan bisa diterima oleh peserta yang memiliki keterbatasan dalam pendengaran. Mereka nampak begitu antusias dalam mengikuti setia sesi pelatihan jurnalistik tersebut. Mulai dari pelatihan memotret, membuat video hingga membuat artikel tulisan.

Humas PSBN Wyataguna Bandung Suhendar menjelaskan kegiatan pelatihan Jurnalistik ini diinisiasi oleh Ikatan Alumni Wyata Guna (IAWG). Tujuannya untuk meningkatkan keterampilan dan merangsang ketertarikan penyandang disabitas terhadap dunia jurnalistik.

"Melalui pelatihan ini kita beri satu stimulus untuk merangsang mereka. Karena kita tidak tahu bakat teman-teman disabilitas. Apa mereka ingin coba atau mungkin punya potensi kita gali hari ini (melalui pelatihan jurnalistik)," kata saat ditemui disela-sela acara.

Dia menuturkan, ada 25 orang penyandang disabilitas mengikuti pelatihan ini. Mulai dari penyandang disabilitas netra, tuna rungu, tuna wicara dan tuna daksa. Dengan keterbatasan tersebut, dia yakin, ada potensi yang tersimpan di diri penyandang disabilitas.

"Ini ada 25 peserta. Terdiri dari tiga kategori tuna daksa, netta dan rungu wicara. Dengan spesifikasi bisa jadi tuna netra jadi penulis, tuna rungu itu bisa jadi foto dan tuna daksa bisa jadi editor," ujar Suhendar.

Selain menggelar pelatihan jurnalistik, para penyandang disabilitas ini juga telah menyiapkan sebuah website atau situs berita online. Website tersebut diharapkan bisa menjadi jembatan informasi antara penyandang disabilitas dengan orang normal pada umumnya.

Ahmad Yuda (30) pembuat website kabardifabel.com mengatakan awal dibuatnya website ini berawal dari sebuah kegelisahan. Dia bersama teman-teman difabel lainnya ingin memberi informasi mengenai isu-isu disabilitas secara menyeluruh.

"Maka kita berinisiatif web berita online kabardifabel.com. Biar beritanya seimbang," kata Yuda.

Melalui website ini dia Yuda berharap berbagai potensi penyandang disabilitas bisa lebih terangkat. Selain itu diharapkan juga teman-teman non disabilitas bisa lebih memahami apa saja yang dibutuhkan oleh penyandang disabilita4.

"Jadi non disabilitas enggak lagi bingung menghadapi disablitas. Saya ingin teman-teman bisa lebih terbuka dan mengetahui caranya menangani disabilitas," ujarnya.

Yuda menambahkan, website buatannya itu masih sangat baru. Dia buat pada awal Januari lalu dibantu beberapa temannya. Saat ini baru sekitar enam belas artikel yang menghiasi website tersebut.

"Nanti saya ingin merekrut banyak lagi teman-teman disabilitas untuk mengisi web ini," tandasnya.

Sumber: detik.com

Jakarta - PT Angkasa Pura II (Persero) membagikan 70 kaki palsu kepada warga di Kota dan Kabupaten Tangerang. Umumnya mereka yang mendapatkan kaki palsu memiliki keterbatasan akibat sebuah peristiwa, seperti kecelakaan dan diabetes.

Kaki palsu yang dibagikan kepada warga Kota dan Kabupaten Tangerang diharapkan bisa meringankan beban warga yang memiliki keterbatasan. Dalam melaksanakan program ini, Angkasa Pura II turut menggandeng sejumlah pihak.

"Pemberian kaki palsu ini adalah salah satu bentuk kepedulian kami kepada warga untuk dapat meringankan beban. Selain bekerjasama dengan Kick Andy, kami juga dibantu Dinas Sosial Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang," kata Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin dalam keterangan tertulis, Kamis (22/3/2018).

Sebelumnya, para penerima bantuan melakukan pengukuran pada 15 Desember 2017 di kantor Dinas Sosial Kabupaten Tangerang dan pada 4 Januari 2018 di kantor Dinas Sosial Kota Tangerang.

Setelah mendapat kaki palsu, mereka yang menerima bantuan akan diajak menjajal transportasi kereta layang (skytrain) di Bandara Soekarno-Hatta.

Bantuan kaki palsu ini diberikan di 13 kantor cabang bandara di berbagai daerah di Indonesia. Kaki palsu tersebut dibagikan secara gratis. Jumlah bantuan yang dikucurkan senilai Rp 1,25 miliar.

Selain di bidang kesehatan, Awaluddin berharap bisa memberikan bantuan di bidang lainnya, seperti pendidikan dan agama.

Untuk diketahui, pemberian kaki palsu ini merupakan bentuk program corporate sosial responsibility (CSR) PT Angkasa Pura II, yang bekerja sama dengan Kick Andy Foundation.

Sumber: detik.com

JAKARTA. Rapat Kelompok Kerja (Pokja) Menuju Kota Inklusif berlangsung hari ini di Le Meridien Jakarta.

Heroe Poerwadi, Wakil Walikota Jogjakarta selaku Ketua Pokja memimpin rapat dengan agenda membahas isu-isu penting, antara lain:

  1. Program Pokja Menuju Kota Inklusif Tahun 2018
  2. Masukan pelaksanaan Program Menuju Kota Inklusif termasuk peluang kerjasama dengan lembaga-lembaga lain

rapat pokja kota inklusif 01112017

Kegiatan ini dihadiri seluruh anggota Pokja lainnya dari Kota Padang, Kota Metro, Kota Denpasar, Kota Banjarmasin, Kota Banda Aceh, Kota Ambon dan Kota Mojokerto dan perwakilan dari ILO, Tendy Gunawan.

 

 

Long Island - Memiliki keterbatasan bukan jadi alasan seseorang untuk menyerah meraih kesuksesan. Contohnya pria yang mengidap down syndrome ini.

Adalah John Cronin, pria muda down syndrome yang kini sukses dengan bisnis kaus kakinya. Di usia yang masih muda, John berhasil menunjukkan bahwa kondisinya tidak menjadi penghalang untuk jadi pengusaha.

Bahkan bisnis kaus kaki yang dirintis John Cronin kini sudah bernilai jutaan dollar Amerika Serikat atau miliaran rupiah.

John Cronin adalah pria down syndrome 21 tahun asal Long Island, Amerika Serikat. Meski hanya lulusan SMA dan berkebutuhan khusus, John berhasil membangun bisnisnya sendiri.

Merilis brand kaus kaki yang diberi nama John's Crazy Socks, ia menawarkan sesuatu yang unik dan kreatif sehingga disukai banyak orang. Apalagi usaha ini juga punya tujuan mulia yang membantu sesama.

Sejak awal John Cronin memang berencana memulai bisnis bersama ayahnya. Tidak pandai memasak, John pun terpikir untuk menuangkan kecintaannya akan kaus kaki menjadi sebuah usaha.

"Aku suka kaus kaki karena itu menyenangkan, banyak warna dan membuat kaki hangat," ungkap John Cronin kepada Time.

Koleksi kaus kaki yang ditawarkan John's Crazy Sock memang unik. Produk-produk tersebut punya gambar serta perpaduan warna yang tak biasa dan menarik perhatian.

Salah satu yang paling unik adalah kaus kaki bergambar Donald Trump dengan aksen bulu-bulu warna pirang sehingga terlihat seperti rambut. Adapun yang bergambar imut seperti unicorn atau semangka hingga superhero dan motif yang cenderung absurd. Selain bergambar unik, kaus kaki itu juga punya sentuhan personal.
Pria Down Syndrome Sukses Bisnis Kaus Kaki Bernilai Miliaran RupiahJohn Cronin dan ayahnya, Mark. Foto: Dok. Time

"Setiap paket ada catatan terima kasih dariku," kata John.

"Ini sangat pribadi untukku. Aku membangun bisnis di mana anakku bisa bekerja dengan kesan mendalam," tambah ayah John, Mark.

Pada November 2016, John dan Mark meresmikan bisnis tersebut yang tanpa disangka langsung laris manis. Dalam dua bulan, ia berhasil menjual lebih dari 1.000 pasang kaus kaki.

Saking banyaknya permintaan, John membeli sejumlah kaus kaki dari brand lokal untuk dijual kembali hanya agar penjualan terus berjalan. Kini produk John's Crazy Socks datang dari sejumlah pabrik di dunia dan beberapa didesain sendiri oleh John. Perusahaan itu pun telah mengirim lebih dari 42 ribu pesanan dan menghasilkan US$ 1,7 juta atau Rp 23 miliaran.

Tak hanya menjual kaus kaki unik, John's Crazy Socks juga punya misi mulia. Yakni mendonasikan 5% dari penjualan untuk diberikan kepada Special Olympics yaitu kompetisi olahraga untuk orang-orang berkebutuhan khusus.

John juga berdonasi untuk The National Down Syndrome Society, The Association For Children With Down Syndrome, hingga badan riset kanker.

Sumber: detik.com

 

JAKARTA. Hari ini APEKSI berkolaborasi dengan UNESCO, ILO dan WHO menyelenggarakan Seminar Tingkat Tinggi untuk Kota-Kota Inklusif di Hotel Le Meridien Jakarta.

Kegiatan diawali dengan sambutan: Airin Rachmi Diany - Ketua Dewan Pengurus, Anita Nirody - Koordinator PBB untuk Indonesia, Bambang Brodjonegoro - Menteri PPN/Ketua Bappenas sekaligus membuka seminar tingkat tinggi ini.

Dilanjutkan dengan Penandatanganan Piagam Jaringan Walikota Indonesia Menuju Kota Inklusif yang terdiri dari Kota Padang, Kota Banjarmasi, Kota Mojokerto, Kota Ambon, Kota Bengkulu, Kota Surakarta, Kota Kupang, Kota Jambi, Kota Jakarta Pusat, Kota Banda Aceh, Kota Jogjakarta, Kota Denpasar dan Kota Tangerang Selatan.

seminar tingkat tinggi kota inklusif

Berita & Artikel Kota Inklusif

Agenda | Events

DIGITECH INDONESIA Digital Transformation dan Industries 4.0 https://www.digitech.id/register

digitech2018

black shapes

Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia | Association of Indonesia Municipalities

Mitra | Partners

cim  giz  iclei  icma  mercycorps indonesia  uclg-ascpa  unesco yipd  citiasia  tau  u pertamina  posindonesia

Direktorat Eksekutif | Executive Directorate

Alamat | Address:
Rasuna Office Park III Unit WO. 06-09
Komplek Rasuna Epicentrum
Jl. Taman Rasuna Selatan - Kuningan - Setiabudi
Jakarta Selatan 12960
INDONESIA
Tel: +62-21 2947 5423 | +62-21 8370 4703
Fax: +62-21 8370 4733
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

© 2000-2018 APEKSI | Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia

 

We have 203 guests and no members online