Berita & Artikel | News & Articles
Tuesday April 23, 2019

menuju kota inklusif

REMBANG, suaramerdeka.com - Sekolah dasar wajib menerima anak-anak berkebutuhan khusus (inklusif) yang akan bersekolah. Namun belum semua sekolah memiliki kemampuan dan fasilitas untuk memberikan pendidikan inklusif.

Kepala SD Negeri Ngemplak Kecamatan Lasem, Teguh Riyanto mengatakan, di Kabupaten Rembang ada empat sekolah yang sudah mendapatkan bimbingan tekhnis (bimtek) langsung dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Empat sekolah yaitu SD Ngemplak Lasem, SD Tanjungsari 1 Kecamatan Rembang Kota, SMP Negeri 2 Gunem dan SMP 1 Sumber. "Kami mendapatkan bimtek langsung dari Dirjen pada bulan Mei lalu", terang dia.

Dia menambahkan, setelah mendapatkan bimtek, SD Negeri Ngemplak kemudian memberikan sosialisasi dan bimtek kepada sembilan sekolah dasar di Kecamatan Lasem. Sosialisasi digelar mulai Sabtu hingga Senin kemarin di SD Negeri Ngemplak dengan mendatangkan instruktur sekolah inklusif dari Kemdikbud yang juga Dekan Fakultas Pendidikan Universitas Negeri Surabaya, Sujarwanto.

"Materi yang diberikan yaitu Kebijakan Pendidikan Inklusif di Kabupaten Rembang, Konsep Pendidikan Inklusif, Keberagaman Peserta Didik, Identifikasi dan Assestmen, Praktek Identifikasi dan Assesment, Implementasi Pembelajaran di sekolah Inklusif, Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran / Program Pembelajaran Individual hingga Praktik Pembelajaran di sekolah inklusif", jelas dia.

Dia mengatakan, dari sosialisasi dan bimtek itu diharapkan sekolah bisa menerima anak-anak berkebutuhan khusus. Sekolah setelah sosialisasi dan bimtek diharapkan bisa mengidentifikasikan anak yang berkebutuhan khusus.

"Dulu, anak inklusif atau berkebutuhan khusus dimasukkan ke Sekolah Dasar Luar Biasa. Namun sekarang secara nasional harus diterima di sekolah dasar umum. Karenanya guru sekolah dasar umum setelah sosialisasi dan bimtek ini diharapkan bisa mengidentifikasi anak yang berkebutuhan khusus masuk kategori apa dan bagaimana penangganannya", tandas dia.

Sumber: suaramerdeka.com

Jakarta - PT Angkasa Pura II (Persero) membagikan 70 kaki palsu kepada warga di Kota dan Kabupaten Tangerang. Umumnya mereka yang mendapatkan kaki palsu memiliki keterbatasan akibat sebuah peristiwa, seperti kecelakaan dan diabetes.

Kaki palsu yang dibagikan kepada warga Kota dan Kabupaten Tangerang diharapkan bisa meringankan beban warga yang memiliki keterbatasan. Dalam melaksanakan program ini, Angkasa Pura II turut menggandeng sejumlah pihak.

"Pemberian kaki palsu ini adalah salah satu bentuk kepedulian kami kepada warga untuk dapat meringankan beban. Selain bekerjasama dengan Kick Andy, kami juga dibantu Dinas Sosial Kabupaten Tangerang dan Kota Tangerang," kata Direktur Utama Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin dalam keterangan tertulis, Kamis (22/3/2018).

Sebelumnya, para penerima bantuan melakukan pengukuran pada 15 Desember 2017 di kantor Dinas Sosial Kabupaten Tangerang dan pada 4 Januari 2018 di kantor Dinas Sosial Kota Tangerang.

Setelah mendapat kaki palsu, mereka yang menerima bantuan akan diajak menjajal transportasi kereta layang (skytrain) di Bandara Soekarno-Hatta.

Bantuan kaki palsu ini diberikan di 13 kantor cabang bandara di berbagai daerah di Indonesia. Kaki palsu tersebut dibagikan secara gratis. Jumlah bantuan yang dikucurkan senilai Rp 1,25 miliar.

Selain di bidang kesehatan, Awaluddin berharap bisa memberikan bantuan di bidang lainnya, seperti pendidikan dan agama.

Untuk diketahui, pemberian kaki palsu ini merupakan bentuk program corporate sosial responsibility (CSR) PT Angkasa Pura II, yang bekerja sama dengan Kick Andy Foundation.

Sumber: detik.com

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh akan memperkuat sistem pendidikan inklusif bagi murid di semua jenjang pendidikan sebagai bentuk realisasi Peraturan Gubernur Nomor 92 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif di Aceh. Para guru dan lembaga pendidikan juga terus didukung untuk memperkuat sistem pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus tersebut.

Salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah Aceh dengan menggelar seminar dan worksop pendidikan inklusif yang digelar oleh Program Kesejahteraan Keluarga (PKK) bekerja sama dengan Universitas Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Senin (25/6). Acara tersebut dibuka oleh Sekretaris Daerah Aceh, Drs Dermawan MM dan dihadiri oleh Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Darwati A Gani.

Darwati A Gani yang diwawancarai awak media usai pembukaan kegiatan itu memastikan, bahwa Aceh terus berupaya memperkuat sistem pendidikan inklusif di Aceh, tujuannya agar anak-anak berkubutuhan khusus bisa berbaur dengan anak-anak normal tanpa ada perbedaan. “Maksud pendidikan inklusif adalah pendidikan yang tidak membedakan antara anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak yang normal, karena mereka juga akan hidup di lingkungan normal,” katanya.

Selama ini, kata Darwati, sistem pendidikan inklusif sudah ada di Aceh, hanya saja belum maksimal. Oleh karena itu, Pergub terkait pendidikan inklusif akan menjadi dasar bagi guru dan lembaga pendidikan untuk terus menguatkan pendidikan inklusif. “Selama ini masih berjalan sendiri-sendiri, kalau ada anak berkebutuhan khusus sekolah di sekolah normal, mereka sedikit tersisih mungkn ya,” kata Darwati.

Karena itu, seminar tentang pendidikan inklusif yang digelar kemarin, diharapkan menjadi pengayaan bagi pendidikan dan lembaga pendidikan untuk menguatkan pendidikan inklusif di Aceh. “Kita berharap ada materi-materi yang bisa kita terapkan Aceh. Yang hadir dalam seminar ini guru-guru, orang tua anak yang berkebutuhan khusu dan perwakilan dinas pendidikan,” kata Darwati.

Sementara itu, Sekda Aceh, Dermawan MM saat membuka seminar itu mengatakan, Pemerintah Aceh menjadikan pendidikan sebagai salah satu prioritas utama dalam pembangunan dan masuk sebagai salah satu dari 15 program prioritas. Pemerintah Aceh bahkan mengalokasikan lebih 20 persen APBA ditambah dengan otsus.

“Saya berani mengatakan, untuk urusan pendidikan Pemerintah Aceh telah menyediakan anggaran yang sangat memadai. Yang dibutuhkan adalah bagaimana memanfaatkan anggaran itu secara efektif,” kata Dermawan.

Sekda mengatakan, pendidikan bagi anak berkeinginan khusus juga menjadi salah satu prioritas. Penerapan sistem sekolah inklusif bahkan sudah dijalankan di Aceh sejak 2012 lalu. Hanya saja, harus diakui bahwa cara pengajaran dan penerapan kurikulum bagi mereka belum maksimal.

“Karena itu kita perlu mencari terobosan baru guna mengembangkan sistem pengajaran terbaik bagi anak kebutuhan khusus ini dalam sekolah inklusif,” kata Sekda Dermawan.

Sumber: serambinews.com

Long Island - Memiliki keterbatasan bukan jadi alasan seseorang untuk menyerah meraih kesuksesan. Contohnya pria yang mengidap down syndrome ini.

Adalah John Cronin, pria muda down syndrome yang kini sukses dengan bisnis kaus kakinya. Di usia yang masih muda, John berhasil menunjukkan bahwa kondisinya tidak menjadi penghalang untuk jadi pengusaha.

Bahkan bisnis kaus kaki yang dirintis John Cronin kini sudah bernilai jutaan dollar Amerika Serikat atau miliaran rupiah.

John Cronin adalah pria down syndrome 21 tahun asal Long Island, Amerika Serikat. Meski hanya lulusan SMA dan berkebutuhan khusus, John berhasil membangun bisnisnya sendiri.

Merilis brand kaus kaki yang diberi nama John's Crazy Socks, ia menawarkan sesuatu yang unik dan kreatif sehingga disukai banyak orang. Apalagi usaha ini juga punya tujuan mulia yang membantu sesama.

Sejak awal John Cronin memang berencana memulai bisnis bersama ayahnya. Tidak pandai memasak, John pun terpikir untuk menuangkan kecintaannya akan kaus kaki menjadi sebuah usaha.

"Aku suka kaus kaki karena itu menyenangkan, banyak warna dan membuat kaki hangat," ungkap John Cronin kepada Time.

Koleksi kaus kaki yang ditawarkan John's Crazy Sock memang unik. Produk-produk tersebut punya gambar serta perpaduan warna yang tak biasa dan menarik perhatian.

Salah satu yang paling unik adalah kaus kaki bergambar Donald Trump dengan aksen bulu-bulu warna pirang sehingga terlihat seperti rambut. Adapun yang bergambar imut seperti unicorn atau semangka hingga superhero dan motif yang cenderung absurd. Selain bergambar unik, kaus kaki itu juga punya sentuhan personal.
Pria Down Syndrome Sukses Bisnis Kaus Kaki Bernilai Miliaran RupiahJohn Cronin dan ayahnya, Mark. Foto: Dok. Time

"Setiap paket ada catatan terima kasih dariku," kata John.

"Ini sangat pribadi untukku. Aku membangun bisnis di mana anakku bisa bekerja dengan kesan mendalam," tambah ayah John, Mark.

Pada November 2016, John dan Mark meresmikan bisnis tersebut yang tanpa disangka langsung laris manis. Dalam dua bulan, ia berhasil menjual lebih dari 1.000 pasang kaus kaki.

Saking banyaknya permintaan, John membeli sejumlah kaus kaki dari brand lokal untuk dijual kembali hanya agar penjualan terus berjalan. Kini produk John's Crazy Socks datang dari sejumlah pabrik di dunia dan beberapa didesain sendiri oleh John. Perusahaan itu pun telah mengirim lebih dari 42 ribu pesanan dan menghasilkan US$ 1,7 juta atau Rp 23 miliaran.

Tak hanya menjual kaus kaki unik, John's Crazy Socks juga punya misi mulia. Yakni mendonasikan 5% dari penjualan untuk diberikan kepada Special Olympics yaitu kompetisi olahraga untuk orang-orang berkebutuhan khusus.

John juga berdonasi untuk The National Down Syndrome Society, The Association For Children With Down Syndrome, hingga badan riset kanker.

Sumber: detik.com

Di era keterbukaan, teknologi dan digitalisasi memang telah memporakporandakan sebuah tatanan. Apa yang tak mungkin menjadi mungkin, terlepas baik buruknya dampak yang mengikuti, semua tergantung dari sudut mana kita menilai dan dari sisi mana kita berpendapat. Namun ada satu hal yang menjadi keresahan, yang senantiasa menggerogoti dinding pemikiran, manakala informasi dan berbagai pemberitaan tidaklah sesuai harapan. Maraknya pemberitaan berbagai kejadian di era keterbukaan sudah bukan lagi hal yang luar biasa. Berbagai kejadian dari yang sangat privat sampai hal yang di luar nalar, sudah bukan lagi sesuatu yang sulit untuk didapatkan. Semua peristiwa akan mudah disaksikan hanya cukup dengan memiliki android, notebook atau komputer biasa yang terhubung dengan internet.

Dengan berbagai kejadian terhadap penyandang disabilitas, sepatutnya terima kasih ditujukan kepada sahabat-sahabat media massa, baik cetak atau elektronik, yang selama ini telah berupaya untuk memberitakan berbagai peristiwa dan kejadian terkait disabilitas. Namun dengan tidak mengurangi terima kasih kepada kawan-kawan media, kiranya dipandang perlu untuk membentuk suatu media yang memiliki identitas dan khas tersendiri. Khusus mengangkat isu-isu disabilitas secara detail, komprehensif, seimbang dan objektif. Media yang tidak melebih-lebihkan atau sebaliknya, semua apa adanya, biarkan masyarakat dan proses dinamika yang akan menjadi penilai terhadap eksistensi dan kiprah media difabel. Dengan berlandaskan niat dan semangat untuk perubahan terhadap cara pandang masyarakat terhadap kaum disabilitas, maka pada awal Januari 2018 beberapa disabilitas sepakat untuk membentuk media online bernama Kabardifabel.com.

Informasi lebih lanjut dapak akses di Kabar Difabel.

Bandung - Puluhan penyandang disabilitas mengikuti pelatihan jurnalistik, di Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wyata Guna, Kota Bandung, Sabtu (17/2/2018). Pelatihan jurnalistik ini diharapkan bisa menambah kemampuan dari para penyandang disabilitas.

Puluhan penyandang disabilitas mulai dari tuna rungu, tuna wicara, tuna daksa dan tuna netra terlihat serius memerhatikan setiap materi yang disampaikan oleh para narasumber. Satu orang penerjemah bahasa isyarat ikut membantu narasumber dalam menyampaikan materinya.

Sehingga, materi yang disampaikan bisa diterima oleh peserta yang memiliki keterbatasan dalam pendengaran. Mereka nampak begitu antusias dalam mengikuti setia sesi pelatihan jurnalistik tersebut. Mulai dari pelatihan memotret, membuat video hingga membuat artikel tulisan.

Humas PSBN Wyataguna Bandung Suhendar menjelaskan kegiatan pelatihan Jurnalistik ini diinisiasi oleh Ikatan Alumni Wyata Guna (IAWG). Tujuannya untuk meningkatkan keterampilan dan merangsang ketertarikan penyandang disabitas terhadap dunia jurnalistik.

"Melalui pelatihan ini kita beri satu stimulus untuk merangsang mereka. Karena kita tidak tahu bakat teman-teman disabilitas. Apa mereka ingin coba atau mungkin punya potensi kita gali hari ini (melalui pelatihan jurnalistik)," kata saat ditemui disela-sela acara.

Dia menuturkan, ada 25 orang penyandang disabilitas mengikuti pelatihan ini. Mulai dari penyandang disabilitas netra, tuna rungu, tuna wicara dan tuna daksa. Dengan keterbatasan tersebut, dia yakin, ada potensi yang tersimpan di diri penyandang disabilitas.

"Ini ada 25 peserta. Terdiri dari tiga kategori tuna daksa, netta dan rungu wicara. Dengan spesifikasi bisa jadi tuna netra jadi penulis, tuna rungu itu bisa jadi foto dan tuna daksa bisa jadi editor," ujar Suhendar.

Selain menggelar pelatihan jurnalistik, para penyandang disabilitas ini juga telah menyiapkan sebuah website atau situs berita online. Website tersebut diharapkan bisa menjadi jembatan informasi antara penyandang disabilitas dengan orang normal pada umumnya.

Ahmad Yuda (30) pembuat website kabardifabel.com mengatakan awal dibuatnya website ini berawal dari sebuah kegelisahan. Dia bersama teman-teman difabel lainnya ingin memberi informasi mengenai isu-isu disabilitas secara menyeluruh.

"Maka kita berinisiatif web berita online kabardifabel.com. Biar beritanya seimbang," kata Yuda.

Melalui website ini dia Yuda berharap berbagai potensi penyandang disabilitas bisa lebih terangkat. Selain itu diharapkan juga teman-teman non disabilitas bisa lebih memahami apa saja yang dibutuhkan oleh penyandang disabilita4.

"Jadi non disabilitas enggak lagi bingung menghadapi disablitas. Saya ingin teman-teman bisa lebih terbuka dan mengetahui caranya menangani disabilitas," ujarnya.

Yuda menambahkan, website buatannya itu masih sangat baru. Dia buat pada awal Januari lalu dibantu beberapa temannya. Saat ini baru sekitar enam belas artikel yang menghiasi website tersebut.

"Nanti saya ingin merekrut banyak lagi teman-teman disabilitas untuk mengisi web ini," tandasnya.

Sumber: detik.com

RAKERNAS & ICE 2019

Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XIV dan Indonesia City Expo (ICE) ke-17 Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia Tahun 2019 akan diselenggarakan di Kota Semarang

  • Lauching ICE tanggal 29 Maret 2019
  • Rakernas tanggal 2-5 Juli 2019 
  • ICE tanggal 3-7 Juli 2019

semarang rakernas 2019

inmarkcomm

PT Integrated Marketing Communication selaku Event Organizer/Penyelenggara untuk Kegiatan Indonesia City Expo 2019 di Kota Semarang.

  • Contact Person:
  • Heru 081287515155
  • Basri 085211238853
  • Gatut 08129280761
  • Hardini 08158811999

COUNTDOWN TO RAKERNAS & ICE 2019

black shapes

Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia | Association of Indonesia Municipalities

PROFIL APEKSI | APEKSI PROFILE

profil apeksi 2018

Profil dalam Bahasa Indonesia - Profile in English | Presentasi Profil dalam Bahasa Indonesia - Profile Presentation in English

Direktorat Eksekutif | Executive Directorate

Alamat | Address:
Rasuna Office Park III Unit WO. 06-09
Komplek Rasuna Epicentrum
Jl. Taman Rasuna Selatan - Kuningan - Setiabudi
Jakarta Selatan 12960
INDONESIA
Tel: +62-21 2947 5423 | +62-21 8370 4703
Fax: +62-21 8370 4733
Email: This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 
apeksipeta

Mitra | Partners

yipdseparatorbnnseparatorbpomseparatorposindonesiaseparatorcimseparatorgizseparatoricleiseparatoricmaseparatormercycorps indonesiaseparatoruclg-ascpaseparatorunescoseparatorunisdrseparatorworldbankseparatoru pertaminaseparatortauseparatoriktiiseparatorantheusseparatorinmarkcommseparatorcitiasiaseparator

 

© 2000-2019 APEKSI | Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia - AIM | Association of Indonesia Municipalities